Pages

a man who (i belive) can be move (on)

3 komentar
dear Wahyullah Nasmar,
melupakan bukan berarti meninggalkan
meninggalkan belum berarti melupakan.

teringat beberapa tahun yang lalu,
mengidentifikasikan nama anda di otak,
selalu membuat senyumku tertebar.
menuliskan nama anda, mendiamkan hati dari kegelisahan
mengingat wajah anda, sangat dirindukan.
ah, ada apa ini?
saya tak tau, mungkin ini...


"iya, saya mau! :) "
saat itu, 28 November 2009.

--------------------------
hingga suatu hari,
setahun kemudian,
semua cerita indah itu harus kembali dikotakkan dalam kurungan berlabelkan "MASA LALU".

Kurungan berjeruji besi yang ketika disentuh menghasilkan sengatan listrik yang sangat dahsyat.
membuat goyah, bahkan perih bagimu. bagi kita.

Sungguh tidak adil memang, saya yang membuat catatan ini.
Sangat tidak adil.

Tapi tidakkah kau ingin kembali menemukan kebebasanmu?
Yang kata orang telah diambil oleh masa lalumu?
Yang kata orang masih digenggam oleh masa lalumu?

terbebas dari masa lalu mu yang entah mengapa sangat sulit untuk kau lepas,
temukanlah masa depanmu, bersama cita-cita dan impianmu.
Temukan subjek baru dari semua mimpi-mimpi yang telah kita bangun bersama.

Tak ada gunanya masih mendayu-dayu dengan masa lalu,
menggantungkan harapan namun tak terbalaskan.
Maafkan saya yang selama ini masih terlihat dengan jelas masih menjadi orang yang sangat kau sayangi
Maafkan saya yang selama ini masih menjadi harapan besar bagimu.
Semoga saya, kau, dan masa lalu kita, tersimpan aman dalam kotak pink yang kau berikan ketika itu.
Semoga kenangan sedih maupun senang itu masih terselip rapi dalam surat ku (yang saya yakin masih terselip dalam dompetmu)

terima kasih atas satu tahun yang sangat berarti itu dan
terima kasih atas perasaan "masih-susahnya-ku-temukan-pngganti-sosok-mu" ini.
ya memang susah, tapi pasti bisa.
begitupun kamu, pasti bisa.

----------------------------------------------
again, Wahyullah Nasmar
not only when i first saw you, i know i like you.
until now, i know i am still like you,
like you as a man who can be move (on)!
keep move on :)




tulisan ini tidak bermaksud menyinggung dan menyakiti hati siapa-apa,
hanya sedikit tulisan untuk menegaskan hubungan dan masa depannya.

"maukah kau mengambil separuh hati ku?"

2 komentar
"bolehkah daku meminta tolong?"
"deh lebay. minta tolong apa?"
"bisa buat tulisan ttg bagaimana mengolah perasaan?"
"ah? ha? ... "

Entah apa yang ada dipikiran orang itu,
mengapa dia meminta tolong menuliskan suatu tulisan mengolah perasaan.
Sepertinya ia sedang mengalami kebuntuan dalam melogikakan perasaannya.
walaupun sebenarnya perasaan takkan pernah bisa dilogikakan.

Saya adalah seorang wanita berusia 18 tahun,
walaupun dari segi tinggi badan (apalagi berat badan) , saya rasa sudah cukup dewasa.
dan dari segi umur pun saya sudah bisa nonton film Dewasa (walaupun sebelumnya memang sudah sering nonton haha)
sungguh saya bukan orang yang pantas untuk membicarakan hal ini lebih jauh.
hanya bermodalkan pengalaman , yang tentunya masih sangat minim pula.
tapi apa daya demi menepati janji, baiklah.

-----------------------------

Ketika kita mulai sepakat untuk menjalani suatu hubungan,
coba untuk tidak menyerahkan segalanya, apapun.
jangan menyerahkan seluruh hati mu, bahkan hidupmu.
ini mengenai bagaimana kita mampu berusaha mengontrol ritme perasaan.

mulai lah dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi tetap ada.
bukannya dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi semakin


Tapi ketika kau bertanya,
"apa yang harus aku lakukan kita ditemukan dalam situasi dimana kita saling sangat mencinta,
terbayang-bayang, meluap-luap, penuh dan sesak?"
"cobalah mengendalikannya"
"bagaimana?"
"tidak tau"

Pikirkan sisi lain dan apapun yang mampu membuatmu harus bertahan untuk tidak terlalu mencintainya , karena sesungguhnya apapun yang "terlalu" itu tidak bijak.
Terlalu menyayangi ataupun terlalu mencintai.
Siapa yang tau apa yang akan terjadi keesokan harinya.
ketika Sang pencipta hendak mengambil perasaan cinta dan sayang itu. bagaimana?
atau ketika Sang pencipta memberikan pilihan yang menjadikanmu jauh darinya. bagaimana?
atau kehendak yang terburuk dimana Sang pencipta harus mengambil insan yang sangat mencintaimu kembalipadaNya? bagaimana denganmu?
Akankah kau hancur, berkeping-keping, meratapi nasib hati mu yang hanya tinggal sebelah?
Bahkan menjadi lupa diri dan sulit menerima kenyataan.
Bukan itu yang kita harapkan, kan, sayang?
entah bagaimana caranya,
tapi kita harus bisa.
sangat subjektif , dan memang ini susah.

"iya, tapi aku tak mau kehilangan kebahagiaanku sekarang! aku baru saja akan memulainya!"
akupun tak ingin menyianyiakan perasaan ini.
cuma ingin menikmati setiap momen, setiap detiknya, setiap ‘sekarang’ yang entah nantinya akan jadi kenang-kenangan buatku di masa depan—yang masih tidak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.

semoga aku dan kamu layaknya seperti sepasang ginjal dalam tubuh.
menyaring (filtrasi) setiap perkataan, apapun tanggapan orang terhadap kita.
menyerap (reabsorbsi) energi-energi positif , ilmu, hikmah dan segala hal-hal baik yang ada dalam diriku dan dirim.
serta membuang (ekskresi) segala prasangka buruk, pikiran negatif, dan kedustaan yang tidak kita perlukan dan nantinya akan menjerumuskan kita.

walaupun jika  nantinya salah satu ginjal itu harus diangkat, setidaknya yang satunya masih bisa bertahan,  tetap menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.

----------------------------
"lalu, maukah kau mengambil separuh hatiku?"
"tidak."
"mengapa?"
"aku ingin mengambil seluruhnya. dan membantumu menyerahkan(seluruh)nya pada penciptamu."


Kamar tidur @ BTN dwi darma blok A7 no.1
gerah, panas, padahal langit mendung -_-