"deh lebay. minta tolong apa?"
"bisa buat tulisan ttg bagaimana mengolah perasaan?"
"ah? ha? ... "
Entah apa yang ada dipikiran orang itu,
mengapa dia meminta tolong menuliskan suatu tulisan mengolah perasaan.
Sepertinya ia sedang mengalami kebuntuan dalam melogikakan perasaannya.
walaupun sebenarnya perasaan takkan pernah bisa dilogikakan.
Saya adalah seorang wanita berusia 18 tahun,
walaupun dari segi tinggi badan (apalagi berat badan) , saya rasa sudah cukup dewasa.
dan dari segi umur pun saya sudah bisa nonton film Dewasa (walaupun sebelumnya memang sudah sering nonton haha)
sungguh saya bukan orang yang pantas untuk membicarakan hal ini lebih jauh.
hanya bermodalkan pengalaman , yang tentunya masih sangat minim pula.
tapi apa daya demi menepati janji, baiklah.
-----------------------------
Ketika kita mulai sepakat untuk menjalani suatu hubungan,
coba untuk tidak menyerahkan segalanya, apapun.
jangan menyerahkan seluruh hati mu, bahkan hidupmu.
ini mengenai bagaimana kita mampu berusaha mengontrol ritme perasaan.
mulai lah dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi tetap ada.
bukannya dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi semakin
Tapi ketika kau bertanya,
"apa yang harus aku lakukan kita ditemukan dalam situasi dimana kita saling sangat mencinta,
terbayang-bayang, meluap-luap, penuh dan sesak?"
"cobalah mengendalikannya"
"bagaimana?"
"tidak tau"
Pikirkan sisi lain dan apapun yang mampu membuatmu harus bertahan untuk tidak terlalu mencintainya , karena sesungguhnya apapun yang "terlalu" itu tidak bijak.
Terlalu menyayangi ataupun terlalu mencintai.
Siapa yang tau apa yang akan terjadi keesokan harinya.
ketika Sang pencipta hendak mengambil perasaan cinta dan sayang itu. bagaimana?
atau ketika Sang pencipta memberikan pilihan yang menjadikanmu jauh darinya. bagaimana?
atau kehendak yang terburuk dimana Sang pencipta harus mengambil insan yang sangat mencintaimu kembalipadaNya? bagaimana denganmu?
Akankah kau hancur, berkeping-keping, meratapi nasib hati mu yang hanya tinggal sebelah?
Bahkan menjadi lupa diri dan sulit menerima kenyataan.
Bukan itu yang kita harapkan, kan, sayang?
entah bagaimana caranya,
tapi kita harus bisa.
sangat subjektif , dan memang ini susah.
"iya, tapi aku tak mau kehilangan kebahagiaanku sekarang! aku baru saja akan memulainya!"
akupun tak ingin menyianyiakan perasaan ini.
cuma ingin menikmati setiap momen, setiap detiknya, setiap ‘sekarang’ yang entah nantinya akan jadi kenang-kenangan buatku di masa depan—yang masih tidak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.
semoga aku dan kamu layaknya seperti sepasang ginjal dalam tubuh.
menyaring (filtrasi) setiap perkataan, apapun tanggapan orang terhadap kita.
menyerap (reabsorbsi) energi-energi positif , ilmu, hikmah dan segala hal-hal baik yang ada dalam diriku dan dirim.
serta membuang (ekskresi) segala prasangka buruk, pikiran negatif, dan kedustaan yang tidak kita perlukan dan nantinya akan menjerumuskan kita.
walaupun jika nantinya salah satu ginjal itu harus diangkat, setidaknya yang satunya masih bisa bertahan, tetap menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.
----------------------------
"lalu, maukah kau mengambil separuh hatiku?"
"tidak."
"mengapa?"
"aku ingin mengambil seluruhnya. dan membantumu menyerahkan(seluruh)nya pada penciptamu."
Kamar tidur @ BTN dwi darma blok A7 no.1
gerah, panas, padahal langit mendung -_-







2 komentar:
Hha Perkedel ! :D
banyak mau ku tulis juga tapi bingung mau mulai darimana.hha
hahaa.. apa maksudnya perkedel? dasar nda jelas.
tulismi saja dulu asal-asalan.
nanti di edit pelan2 :)
Poskan Komentar