Pages

Salah

3 komentar
Saya adalah saya
Inilah saya

Menyambung kegelisahan perasaan,
saya merasa ada yang salah dengan pembentukan jiwa saya.

beberapa hari ini telah mempelajari sistem Reproduksi,
betapa sempurnanya kita (manusia) yang telah diciptakan oleh Tuhan,
yang dari setetes air mani kemudian berkembang menjadi embrio yang janinnya dilengkapi dengan plasenta dan tali pusat, sebagai sumber nutrisi dan udara, penghubung antara anak dan ibunya.
dan kemudian berkembang dan lahir menjadi bayi kecil yang bersih dari dosa.

Tidak, Tidak, Sepertinya pembentukan karakter ku yang salah,
bukan salah penciptaan.

Setelah lahir di dunia, bayi kecil menangis.
Itu adalah salah satu bentuk respon positif, bayi tersebut normal
Azan pun dikumandangkan ditelinga bayi kecil, oleh ayah yang paling hebat sedunia.
"Allahuakbar.."

Ataukah belum kutemukan jati diri ku?
terlalu terlarut dalam situasi dan keadaan?

Bayi kecil dilimpahi kasih sayang yang tak terkira,
diberikan nama yang indah,
ditanamkan nilai-nilai harapan dan doa di dalam namanya.
"Semoga menjadi anak yang sholeha, berbakti pada orang tua, pintar, dan berguna bagi orang lain"
itu yang dikatakan sang ibu sambil mengecup dahi bayi kecilnya

Saya tidak lemah, saya yakin
Entah sekarang atau nanti, saya siap menerima diri saya

Berbagai jenjang pendidikan telah dilewati,
dengan background pedidikan di sekolah-sekolah terbaik di kotanya,
bayi kecil yang kini tak lagi kecil, ia sedang melanjutkan pendidikannya di fakultas ternama di kotanya.

Tapi kenapa tidak bisa mengendalikan salah satu bagian perasaanmu sendiri?
Tetap bermain dalam ritme yang sama, mulai, berhenti, tidak lagi dan lagi

Di dalam kampus, ia menjadi sosok mahasiswa yang suka bergaul dan berorganisasi
ia memiliki banyak organisasi, yang masing-masing memberinya peran yang berbeda-beda.
ia menikmatinya, walaupun suatu saat nanti ia pasti akan jenuh juga.

Sungguh bukan Tuhan yang salah, bukan pula siapa - siapa
saya yang salah . salah menanam perasaan, salah membuahkan perasaan.

Ketika jenuh itu datang, tanpa henti ia mencoba menghapusnya.
Seperti rintik-rintik hujan di kaca mobil yang mengganggu, yang segera di singkirkan untuk melihat jalanan didepan.
Jalanan yang panjang, yang akan ia lalui

Sudahlah, tak ada gunyanya menyesal.
Penyesalan hanya untuk orang-orang yang pesimis

Namun, mengapa harus tetap melanjutkannya?
Lalu, mengapa tak kau tinggalkan saja perasaan mu?

Karena cinta . Ia cinta akan hidupnya, dan segala keadaan yang ada pada hidupnya.
Karena cinta. Saya cinta perasaan saya, dan segala konsekuensi di dalamnya.

-----------------------------------------------------------------
kamar, 9 Mei 2011
suasana hati kacau balau, kangen.