"tidak ada" adalah future tense dari "ada" pada mikrocosmos
seperti halnya sebab pada akibat,
keduanya jelas sangat erat kaitannya.
ada pertemuan ada perpisahan.
klise memang,
tapi memang begitu bukan?
tidak pernah ada alasan untuk tidak bertemu,
dan tidak ada alasan pula untuk tidak berpisah.
tidak ada alasan untuk tidak bahagia,
dan tidak ada alasan untuk tidak sedih.
Tuhan sungguh ingin membuatmu menjadi manusia seutuhnya,
yang dalam hal ini tetap dengan cara keEsaan-Nya.
Menemukan orang-orang yang baru dalam setiap hidupmu,
yang diharapkan mampu membuatmu paham tujuan penciptaanmu.
dan begitupun saya dan beberapa orang yang sempat dekat dengan saya.
salah satunya, AJ.
dia yang katanya telah memutuskan suatu keputusan terbijak dalam hidupnya.
apa betul?
suatu ketika, Tuhan mempertemukan kami di suatu tempat
dan apakah ketika itu kami menyesal?
"tau begitu, mending nda usah ketemu!!"
bukan begitu, Tuhan pasti ingin kau mengambil pelajaran di tiap-tiap masalahmu
dan apabila ditengah pertemanan tiba-tiba kau merasakan sesuatu yang lain,
cemas dan ketidakstabilan emosi yang meluap-luap, tapi bahagia.
haruskah segera dihentikan? bukankah kau bahagia?
"Aku merasakan sesuatu yg aneh pada diriku, sepertinya separuh jiwaku telah kau ambil?"
"Ya. Sepertinya. Akupun merasa demikian. Separuh hatiku pun telah kau ambil."
Bersiaplah.
ketika itu, kau merasa dunia ini begitu indah,
hari-hari kau lewati bersama, dan kau bahagia.
tapi seperti halnya ada menjadi tidak ada.
kebahagiaan ditemani oleh berbagai desakan dan tekanan yg datang.
"Tetap bertahan, percaya padaku!"
"iya, tenang saja, aku percaya."
dia,
terlalu koleris.
dan saya terlalu sanguinis, berlebihan.
suatu kombinasi karakter yang unik,
tapi keduanya dipertemukan dengan sisi karier masing-masing,
melankolis.
apa ? melankolis?
hahahaa.
melankolis dan berujung tragis.
begitulah suatu keputusan yang pada akhirnya diambil olehnya,
menjelaskan segala hal yang tidak jelas selama ini,
dan memilih untuk mematikan perasaan masing-masing.
kenapa?
tekanan datang silih berganti,
tekanan dari orang-orang terdekat yang semakin berat ,
yang awalnya hanya sebagai pengamat,
kemudian berniat menjadi tameng dan batu loncatan,
kini beralih peran menjadi sang penentu hubungan.mereka membuat isu, memanaskan, menghilangkan, dan begitu lagi.
berharap itu adalah sebuah "uji mental" untuk memperkuat hubungan ini.
tapi sayangnya tidak,
mereka penghancur dan menjadi bunga-bunga berduri.
mulai saat itu,
saya mengambil pelajaran untuk tidak ada lagi alasan untuk ikut campur,
ikut andil, ataupun turut membantu hubungan orang lain.
apapun bentuknya. mereka butuh privasi.
jangan banyak korban-korban lain seperti kami.
semoga.
tapi..
ada satu hal yang paling kusesali.
"kenapa kita se fakultas?"
--------------------------------------------------
1:37 am @ kamar.
gerhana bulan katanya, tapi malas keluar rumah
gerhana bulan katanya, tapi malas keluar rumah
sudah berniat puasa sebelum tidur.







1 komentar:
Tak ada sesali...hehehe..bagus sekali tulisanmu de' (nama/bukan gelar)..salut
Poskan Komentar