Pages

hujan

hujan pahit

"kau tau, mengapa aku menyukai hujan?
karena di setiap tetesnya yang membasahiku,
didalamnya,
ada pantulan wajahmu."

"bukankah mengingatku adalah sebuah imajinir pahit bagimu? aku yakin,
kau bahkan pernah mengatakannya dengan lantang padaku, tahun lalu!"

"ya, karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk tetap menjadi bagian dalam hidupmu.
dengan membenciku, setidaknya ada tempat khusus untukku di hatimu."


--------------------------------

hujan telepon

"dimana?"
"di jalan menuju rumah"
"diluar hujan. nda kehujanan kan?"
"iya, nda kok. ini lagi nebeng sama temen. hehe. kamu dimana?"
"aku lg praktikum"
"kok  nelpon?"
"ngga, khawatir aja sama hujan."
"emang hujan ngapain?"
"lagi berusaha nyampein 'rindu' ku ke kamu."
terinspirasi oleh telpon pacar tadi sore :* hehe
----------------------------------

hujan kodok

"kodok..."
"iya, ikan?"
"kamu ribut banget deh!"
"ribut apanya, ikan?"
"tiap habis hujan kamu pasti nyanyi. kamu bahagia ya basah2 gitu?"
"haha.. menurut leluhur kami, hujan itu tangisan bumi, jadi kami bernyanyi untuk menghibur bumi yang lagi sedih."
"begitu ya?"
"iya, menurut kamu itu mengganggu?"
"nyanyikan satu lagu untukku!"

*diterjemahkan oleh alifia ayu delima krok krok krok*

---------------------------------

hujan rintik-rintik

tik tik tik bunyi hujan diatas genteng,
airnya turun tidak terkira, cobalah tengok,
dahan dan ranting .
pohon dan kebun basah semua.
#bukanbasamami haha
terinspirasi dari lagu anak-anak dan tulisan di pete-pete daya
-------------------------------

hujan penjemput

suatu senja,
seorang wanita paruh baya terbaring lemah tak berdaya,
yang terdengar tidak hanya bunyi hujan yang lebat,
bunyi detik jam yang berpindah,
dan nafasnya yang memburu pun meredam bunyi hujan.

tangis,
wanita tua itu menangis.
disisi rumah yang kini hanya berupa puing-puing.

masih terbayang jelas bagaimana eksekusi tanah itu terjadi,
saat para oknum menariknya paksa untuk meninggalkan "rumah" yg telah ia huni selama 30 tahun.

guratan wajahnya yang mengerut,
matanya yang sayu, tertutup sambil berusaha menahan tangis dan sakit hatinya.
air matanya tak kunjung henti mengalir.
ia tetap menangis.
seperti hujan yang semakin lebat diluar sana.

namun Tuhan berkata lain,
dalam hujan-Nya ia mengistirahatkan ummatNya.
sekiranya ia bisa lebih bahagia disana.
menikmati hujan dan rumah yang mungkin menjadi rumah terakhir baginya.

terinspirasi dari beberapa eksekusi penggusuran paksa di Makassar

2 komentar:

Aksara Sukma mengatakan...

Bisa..bisa..punya bakat melucu yg genius, juga keseriusan yg cerdas..:-)

A. Alifia Ayu Delima mengatakan...

subhanalla, terima kasih pujiannya.
soalnya sy juga bingung ini melucu atau serius ahaha xD