Pages

cerpen buat majalah sinovia

0 komentar

KAHDYALENA
    Oleh A.Alifia Ayu Delima


"Jika nanti ketika aku tak lagi ada, apakah kau akan tau rasanya kehilangan?"

Rabu, 2 Desember 2002
"Kau memang tidak mengerti! dan kau memang tak akan  akan pernah mengerti apa-apa, Hilal. Kenapa?", masih tersimpan jelas di Hipotalamus Lena percakapan terakhirnya sebelum sosok Hilal menghilang dari imaji. Sesosok pria tinggi-kurus yang mengatakan "aku mencintaimu" 4 tahun yang lalu dan hingga saat ini tak ada kabarnya sama sekali.

Lena tertinggal dalam kalut yang menyelimuti dirinya, setiap malam.
Ia merasa seolah-olah di tinggalkan begitu saja tanpa adanya pernyataan ataupun pengakuan Ia cuma mau tau, apakah Hilal betul-betul membencinya atau apa?

Hilal,
Apakah telah kau hapus tentangku dalam memorimu?
Tidak kah kah kau ingat alasan mengapa kau mencintaiku dulu?
Alasan mengapa kau menginginkanku?
Kuharap kau telah menemukan sebagian hidupmu.
dan aku pun akan menemukan sebagian itu.


Sabtu, 1 Januari 2006.
Lena dan kedua sahabatnya sedang bercengkrama di kantin.
"Len sejak bertahun-tahun lalu kamu masih setia aja sama si Hilal. padahal dia udah ngga tau gimana kabarnya kan? " kata Lidya, sahabat Lena.
"iya nih, kok kalian ngomongin Hilal? mentang-mentang lebaran kemaren si Hilal diperdebatkan.. hahaha"  tawa Lena garing.
"Dasar nih perempuan diajakin serius malah bercanda terus, eh Len, lupain aja tuh Hilal, kamu kan baik, cantik, pinter, kaya, alim, walaupun suka galau, tapi kamu hampir sempurna kok, Len. Gampang banget cari cowok lain, apaan lagi coba?" kata Kiki ikut pembicaraan.
"Oke deh, girls. Kalian puas-puasin aja nyudutin gue, puas-puasin aja bikin gue galau, besok ujian praktikum gue masuk duluan ya. kalian dibelakang aja jauh-jauh. yuuk daaah bye!', Lena ketus. 
Maklum, Lena alias Kahdyalena, nama unik yang selalu tercantum di pengumuman kelulusan tiap ujian. Ia terkenal dengan kepintaran dan kebaikan hatinya, termasuk kebaikan hatinya dalam membantu teman-temannya dalam kesusahan, apalagi dalam ujian.
Ia selalu punya presepsi lain mengenai kebaikan.
"Ye.. ngancem.. ngancem.. jangan mayah doong.. cini cini.. peyuk duyu Lena cantik. Jangan ujian jauh-jauh dari kami ya.. hahaha" Lidya berusaha membujuk.
"Dasar cewek-cewek galau. haha. iya deh, gue move on nih ya.. move on! cari cowok lain kan?", tanya Lena serius.
"Iya, tapi yakin lo bisa?" mata Lidya dan Kiki menyipit ala pembawa acara gosip.
"Apa sih yang tidak bisa?" jawab Lena meyakinkan.

Apa sih yang tidak bisa? 
Ya. saya tidak bisa tidak mengingatnya.
Tidak bisa tidak mencintainya. Tidak bisa menguburkan kenangan bersamanya.
Tidak bisa sedetikpun. Sampai kapanpun.

Jumat, 11 November 2006
Hujan mengguyur kota dan membawa kesedihan yang mendalam bagi keluarga Lena.
Lena yang sudah 5 hari ini tidak masuk kampus, masih terbaring lemah di kamar 107.
Setelah nyeri perut bawah hebat yang ia rasakan sudah sejak lama, dengan bujukan ibunya, akhirnya ia mau memeriksakan diri ke dokter ahli Obstetri dan Gynecologi. Saat ini Lena sekeluarga sedang menunggu hasil pemeriksaan Histopatologi mengenai penyakitnya ini.
"Ibu keluarga nona Kahdyalena?" tanya dokter
"Iya, saya ibunya dok. bagaimana hasil pemeriksaannya dok?" tanya ibu Lena cemas, namun tangannya tak henti menggenggam lembut jemari Lena.
"Bisa kita bicara di ruangan saya? Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Ibu" kata dokter sambil beranjak dari kamar Lena.
Dari hasil pemeriksaan histopatologi, ditemukan berbagai perubahan spektrum intraepitel terbatas pada epitel skuamosa dan lebih dari 2/3 lapisan sel tidak berdiferensiasi dan berupa tonjolan yang ulseratif, berbenjol-benjol dan nekrotik yang merupakan ciri khas suatu keganasan stadium lanjut pada servix. Ia di diagnosis Ca Cervix stadium lanjut.
Ibu dan ayah Lena merawat Lena sepenuh hati, walaupun mereka tau bagaimana prognosis penyakit ini pada akhirnya. Sahabat-sahabatnya pun demikian. Tuhan tentu sudah punya jawaban atas segala kejadian yang tiba-tiba menimpa Lena.
Sampai Lena menghembuskan nafas terakhir 5 bulan kemudian, ia masih mencintai nama itu, Hilal, rembulan yang akan selalu ada walau jiwa tak lagi dikekang oleh badannya.
"Eh, Lid, kamu.. lihat tidak nama nisan disamping makam Lena?" kata Kiki sambil sesengguk masih menahan air matanya,
"Iya Ki, cowok yang mungkin kalo masih hidup, umurnya juga seumuran kita, kan? kasihan ya.." kata Lidya sambil mengambil tissue dari dalam tas nya.
"Bukan cuma itu, Lid! coba lihat, nama cowok itu persis sama nama cowok yang Lena sering tulis di catatan hariannya."
"Hi..lal.. Putra Kusuma!", jawab mereka bersamaan.
"Itu artinya. Hilal sudah meninggal sejak 4 tahun lalu?"
"Jika nanti ketika aku tak lagi ada, apakah kau akan tau rasanya kehilangan? Mungkin tidak, karena aku pun telah kehilanganmu sebelum kau kehilanganku."
THE END